Sunday, 21 October 2018

Tata Rias Pengantin Adat Madura



Sebelum prosesi perkawinan mempelai perempuan melewati serangkaian tradisi. Ia akan mengenakan busana bahasan seperti kemben. Dengan busana ini mempelai perempuan melewati serangkaian perawatan tubuh, seperti dilulur (elolor dalam bahasa Madura) dan rambutnya diasapi dupa yang wangi. Kemudian dilanjutkan sapuan bedak kamoridan, yaitu bedak bida yang sarat khasiat. Kemudian yang terakhir ialah meminum jamu khusus yang diyakini mampu membuat tubuh menjadi harum.

Dalam tata rias pengantin adat Madura terdapat 3 buah pakem riasan yang dipakai dalam 3 waktu malam perayaan, yaitu Paes Legha, Kapotren, dan Lilin. Masing-masing paes tersebut menandakan waktu dipakainya oleh kedua mempelai. Setiap paes dipakai sehari di waktu malam perayaan. 

Pada malam perayaan pertama, dikenakan paes Legha Madura yang kaya akan pernak pernik. Riasan ini hampir mirip dengan pas ageng Jawa atau Jogja, hanya saja paes Legha Madura tidak memakai jahitan mata atau jahitan alis pada riasannya.

Di malam perayaan kedua digunakan paes Kapotren. Busana paes Kapotren secara garis besarnya merupakan paduan antara kebaya berbahan beludru dengan kain batik khas Madura yang dikenal dengan sebutan Samper Sarong. Dalam resepsi ini yang hadir meliputi pini sepuh dan keluarga dekat kedua mempelai saja.

Pada malam ketiga penganten menggunakan rias Lilin dengan kebaya putih dan hiasan melati, menandakan lambang kesucian dan merupakan malam pertama untuk penganten.

Kendati diatur dan memiliki pakem, tradisi Madura yang berkaitan dengan tata rias dan busana pengantin ini sudah banyak ditinggal. Kalaupun masih menggunakan busana adat tersebut kebanyakan sudah tidak sesuai pakem asli budaya Madura. Terkadang dikombinasikan dengan busana Muslim dan Eropa.