Monday, 23 April 2018

Prosesi Pernikahan Perwira Militer, Pedang Pora

Perwira militer, baik TNI maupun Polri, mempunyai tradisi pernikahan dalam rangka melepas masa lajangnya yang disebut dengan Pedang Pora. Dalam prosesinya kedua pengantin akan diiringi oleh rekan-rekan perwira yang akan membentuk gapura dari hunusan pedang. Upacara yang begitu khidmat ini selalu mengundang decak kagum para tamu yang menyaksikan.

Tradisi Pedang Pora ini sudah berlangsung secara turun temurun. Tujuannya selain sebagai wujud solidaritas dan persaudaraan dari sesama rekan militer, juga dimaksudkan untuk memperkenalkan dan menyambut mempelai wanita sebagai bagian dari keluarga besar angkatan bersenjata. Gapura pedang yang dilewati kedua mempelai diartikan bahwa keduanya telah memasuki gerbang kehidupan yang baru.

Prosesi Pedang Pora ini hanya diperuntukkan untuk perwira militer pria yang masih aktif dan belum pernah menikah. Artinya, hanya bisa dilakukan sekali seumur hidup.



Jalannya Prosesi Pedang Pora


Dua belas perwira dengan seragam militer lengkap akan berdiri berjajar dan saling berhadapan di sepanjang jalan menuju pelaminan. Prosesi ini diawali dengan laporan dari komandan regu kepada mempelai pria bahwa prosesi Pedang Pora siap dilaksanakan. Ketika laporan sudah diterima, komandan regu kembali ke tempat dan memberi aba-aba kepada para anggota pasukan untuk menghunus pedang. Pedang Terhunus itu mengandung makna, bahwa "dengan jiwa ksatria kedua mempelai siap menghadapi segala rintangan yang akan mereka hadapi dalam kehidupan".

Kemudian berjalanlah kedua pengantin dengan pelan namun memasuki gapura pedang. Posisi awal pedang menyilang di bawah sebelum akhirnya diangkat ke atas pada saat kedua mempelai berjalan melewatinya. Pasukan pedang pora-pun dengan langkah tegap akan berjalan mengikuti dibelakang kedua mempelai.




Sesampainya di depan pelaminan, ke-12 perwira tersebut membentuk formasi lingkaran sambil mengangkat pedang dengan posisi kedua mempelai berada di tengah lingkaran. Formasi ini disebut Payung Pora, yang bermakna bahwa Tuhan Yang Maha Esa akan selalu melindungi kedua mempelai dalam menghadapi segala rintangan kehidupan dan selalu ingat untuk memohon lindungan dan petunjuk kepada-NYA.

Pada saat itulah dilakukan penyematan cincin yang melambangkan bahwa kedua mempelai akan bersama-sama dalam mengarungi bahtera kehidupan baru, dan penyerahan seperangkat pakaian seragam persatuan isteri angkatan kepada pengantin wanita. sebagai lambang bahwa mempelai wanita telah siap mendampingi suami sebagai istri seorang prajurit dan juga sebagai pertanda bahwa telah diterima sebagai bagian dari keluarga besar persatuan isteri militer.

Selanjutnya Komandan regu akan menyerukan aba-aba Tegak Pedang dan pembacaan puisi. Setelah itu sang pengantin dipersilahkan menuju ke pelaminan.




Semua tradisi pernikahan sarat akan makna didalamnya. Namun walau prosesinya berbeda-beda, tetap memiliki satu arti yaitu mendoakan kebaikan untuk sang pengantin.



No comments:

Post a Comment