Wednesday, 18 March 2015

Pernikahan Perpaduan Tradisi Minang & Jawa (Dhita & Arista)


Pasangan yang sama – sama berasal dari fakultas psikologi salah satu universitas ternama diJakarta ini, memilih memadukan tradisi minang & jawa dalam penyatuan cinta mereka. Hal tersebut sebagai wujud penghormatan pada kedua keluarga, keluarga Dhita yang notabenya berasal dari ranah minang dan keluarga Aris yang berasal dari tanah jawa. 

Keduanya memulai persiapan dengan team rias sejak pukul 13.00 wib. Tradisi minang sangat terlihat dari busana pengantin yang mereka kenakan, terutama hiasan kepala sang calon mempelai wanita, yaitu suntiang yang merupakan ciri khas pengantin minang. Pasangan ini memilih dominan warna silver dalam acara akad nikahnya.


Kedatangan calon pengantin pria, Aris disambut dengan pengalungan bunga melati oleh kedua orang tua dan keluarga besar Dhita. Setelah menerima pengalungan bunga dan mencium tangan calon ayah dan ibu mertuanya tersebut, barulah Aris memasuki ruang akad nikah, tentu dengan diapit oleh kedua orang tua Dhita dan diantarkan sampai ketempat duduk yang telah disiapkan untuk sang calon pengantin pria ini.


Pasangan ini memilih untuk disandingkan pada saat ijab qabul, keduanya ingin bersama – sama merasakan dan menyaksikan jalannya prosesi janji suci mereka.  Aris terlihat sangat tenang menjelang ijab qabul dengan didampingi Dhita.



Sebelum ijab qabul dimulai, keharuan sangat terasa didalam ruang akad nikah. Dhita, dengan suara sendunya meminta izin pada sang ayah tercinta untuk berkenan menikahkan dia dengan calon suami pilihannya yaitu Aris. Dari kejauhan terlihat sang ibu meneteskan air mata, sebuah ekspresi bahagia dan sedih yang bercampur saat menyaksikan putrinya akan dipersunting.


Detik – detik menjelang ijab qabul, suasana seketika menjadi hening. Seluruh yang hadir diruangan seolah ikut serta menanti dan ingin menyaksikan dengan khidmat prosesi dimana kisah cinta Dhita & Aris akan dipersatukan. Dengan lantang terdengar serangkaian kata yang diucapkan Aris, ‘’Saya terima nikah & kawinnya, Adhita Wulandari binti Bramantyo Ontowiryo dengan mas kawin berupa……dibayar tunai ‘’. Ketika penghulu dan para saksi mengesahkan kalimat tersebut, maka sah pula pasangan ini menjadi suami istri.


Dengan dipandu penghulu keduanya menandatangani dokumen nikah, dan akhirnya buku nikah yang menjadi bukti sahnya mereka sebagai suami istri telah diterima keduanya. Kemudian dilanjutkan pembacaan sighat taklik atau janji pernikahan oleh Aris kepada Dhita, pengucapan janji pernikahan ini tentu disaksikan oleh seluruh yang hadir pada prosesi sakral ijab qabul, berharap Aris akan memenuhi dan selalu mengingat janji sucinya pada sang istri.



Prosesi selanjutnya adalah penyematan cincin nikah, penyerahan mahar & dan terakhir Dhita mencium tangan Aris, sebagai tanda penghormaan pertama kali pada sang suami. Semua moment tersebut satu persatu diabadikan oleh fotografer Sandra’s Project. Sebelum beralih ke prosesi sungkeman, pasangan ini dengan seksama memperhatikan khotbah nikah yang disampaikan oleh penghulu.



Setelah prosesi ijab qabul selesai kemudian di lanjutkan dengan acara Sungkeman, prosesi ini diyakini sebagai wujud bakti Dhita & Aris kepada orang tua sekaligus sebagai tanda hormatnya kepada orang - orang yang dituakan. Moment meminta maaf kepada kedua orang tua, memohon izin dan meminta doa restu untuk membingkai kebahagiaan menuju bahtera rumah tangga. Seluruh prosesi akad nikah ditutup dengan foto pengantin beserta orangtua dan eyang keduanya.

Kemudian pengantin & keluarga bergegas untuk persiapan acara resepsi.


Masih di venue yang sama tempat berlangsungnya akad nikah, tepatnya di Gedung Pewayangan Kautaman TMII, acara resepsi juga akan digelar di venue ini pada malam harinya.


Pelaminan yang megah telah siap menyambut sang ratu dan raja semalam. Konsep yang diusung pada acara resepsi Dhita & Aris  lebih kepada modern jawa. Pelaminan berupa bangunan pilar – pilar tinggi, dikombinasikan dengan perpaduan warna kain coklat tembaga, biru laut & hijau, frame cermin menjadi penghias dibeberapa sudut, semuanya mampu menghadirkan kesan kekinian dan latar belakang gebyok ukiran kayu dalam palet warna putih mampu menghadirkan citra modern jawa.



Sang pengantin telah berganti busana, kali ini mereka mengenakan busana pengantin jawa modifikasi. Aris terlihat sangat gagah, begitu pula Dhita terlihat sangat ayu dengan segala macam aksesoris Jawa-nya itu. Sebelum memulai acara kirab pengantin, team Sandra’s Project mengabadikan pengantin & keluarga terlebih dulu di pelaminan & studio mini. Dokumentasi ini selalu diupayakan team Sandra’s Project untuk dilakukan lebih awal sebelum prosesi kirab pengantin, karena make up/ riasan pengantin & keluarga masih sangat fresh.


Prosesi kirab pengantin dimulai kurang lebih pukul 19.00 wib, pasangan pengantin ini menggunakan mobil pengantin untuk menuju lobi venue, dimana cucuk lampah dan barisan keluarga besar sudah menanti kedatangannya.


Dhita & Aris berjalan menuju pelaminan dengan dibimbing cucuk lampah dan diiringi barisan keluarga besarnya, keduanya terlihat sangat anggun. Senyum keduanya selalu terpancar sepanjang karpet merah, ekspresi bahagia sekaligus bentuk sapaan kepada para tamu yang hadir & menyaksikannya.


Pasangan pengantin ini mengakhiri semarak pesta dengan beberapa pose yang tak luput dari incaran lensa team fotografer Sandra’s Project, pose-pose yang terlihat sangat romantis menjadi penutup pesta mereka. Bagi Dhita & Aris, seluruh rangkaian acara yang telah diselenggarakan merupakan momen istimewa yang akan menjadi kenangan paling istimewa dan terindah selamanya.

Selamat& menempuh hidup baru Dhita & Aris,,,

Terimakasih telah mempercayakan momen istimewa kalian pada Sandra’s Project & team.

Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah dan warrahmah,,,,