Thursday, 19 February 2015

Hiburan Pernikahan Adat Sunda: Mang Lester, Tari Rampak Gendang & Tari Merak.

Pada prosesi pernikahan dengan adat sunda pastinya masyarakat umum telah mengenal istilah upacara adat penyambutan pengantin yang dipandu oleh tokoh orang tua yang disebut Lengser. Tokoh orang tua tersebut kerap kali dipanggil dengan nama Mang lengser/ Ki Lengser, biasanya Mang lengser/ Ki lengser ini ditemani dengan penari, pembawa umbul –umbul dan pembawa payung.

Pakaian yang digunakan lengser sangat sederhana, biasanya terdiri dari baju kampret, celana pangsi dilengkapi dengan sarung yang diselendangkan/ kain setengah dan totopong( ikatkepala ). Untuk riasannya mereka selalu menggunakan make up karakter yang memperlihatkan wajah kakek tua renta, dengan memperlihatkan gigi yang ompong, ditambah lagi dengan gerakan – gerakan tari yang sangat lucu. Kehadirannya selalu mengundang gelak tawa dan takjub para penonton/ tamu undangan.

Mang Lengser/ Ki Lengser pitu sendiri mempunyai filosofi yaitu perananya sebagai sosok panutan masyarakat yang dituakan dan juga sebagai symbol penasehat dalam pernikahan, itulah alasannya kenapa sosok lengser lebih sering diperankan sebagai seorang kakek. 

Kehadiran Mang Lengser/ Ki Lengser seringkali menjadi sosok yang menarik perhatian para tamu undangan yang hadir pada pesta pernikahan. Begitu rombongan pengantin telah siap untuk memasuki  tempat berlangsungnya resepsi, lengserlah yang akan menyambut terlebih dulu.

Upacara mapag pengantin ini tidak berlangsung lama, karena fungsinya hanya untuk menyambut kedatangan kedua mempelai dan mengantarkannya kekursi pelaminan, mempersilahkan pengantin dan orang tua kedua pengantin duduk ditempatnya masing – masing. Gerak – gerik dan kelucuannya membuat pesta semakin meriah dan tak terlupakan.

Para calon pengantin dan keluarga juga selalu menginginkan pesta pernikahan yang akan digelar nantinya meriah dan dapat berkesan, terutama untuk para tamu undangan. Tarian merupakan salah satu pelengkap sebagai hiburan yang dapat membuat suasana pesta semakin meriah. Tarian yang sering menjadi pilihan hiburan pada pesta pernikahan pasundan adalah Tari Merak dan Tari Rampak Gendang.

Rampak Gendangmerupakan salah satu kesenian tradisional yang berasal dari Jawa Barat. Rampak berasal dari bahasa sunda yang bermakna serempak atau secara bersama-sama, jadi rampak gendang bisa diartikan sebagai pertunjukan gendang yang dimainkan secara bersama-sama. Gendang atau kendang adalah salah satu alat music tradisional dari Jawa Barat yang  dimainkan dengan cara dipukul.

Semua penari menggunakan pakaian khusus, dengan ada bermotifkan daerah Sunda dengan warna yang menarik secara seragam.

Setiap pemain kendang memainkan kendang indung (besar) dan 2 buah kulanter (kendangkecil). Mereka duduk dibelakang kendang pegangan masing-masing dalam posisi main kendang. Posisi pemain kendang ini diatur sedemikian rupa supaya tampak oleh penonton.

Mereka membunyikan kendang secara berbarengan memainkan komposisi lagu tabuhan secara berbarengan dan diselingi gerakan-gerakan tangan, kepala, serta badan secara berbarengan atau bergantian. Kadang - kadang diselingi teriakan bersama, atau diam serentak bersamaan.

Pilihan berikutnya adalah Tari Merak, sama halnya dengan Tari Rampag Gendang, Tari Merak merupakan salah satu tarian yang digunakan untuk menyambut kedatangan pengantin pada pesta pernikahan.

Tari Merak ini dimainkan oleh para penari wanita, namun sebenarnya tarian ini menggambarkan tingkah laku merak jantan dalam menebatkan pesonanya kepada merak betina. Tarian ini juga mengisahkan tentang burung merak yang menampilkan keindahan bulu ekornya yang panjang dan warna warni, hal itu juga dapat terlihat pada kostum yang dikenakan para penari. Kostumnya sangat mampu mencerminkan keindahan burung merak, bagian sayap yang dipenuhi dengan payet dan mahkota yang berhiaskan kepala merak yang disebut ‘’ Singer ‘’ selalu menjadi ciri khas tarian ini.

Setiap gerakannya penuh makna ceria dan gembira, sesekali mereka menampilkan gerakan layaknya seekor merak yang sedang melompat. Tarian ini semakin terkesan mempesona ketika penari Merak menari sambil membentangkan sepasang sayapnya yang sangat indah. Sungguh seperti replica dari burung merak yang mengagumkan.

Mang Lengser, Tari Rampag Gendang & Tari Merak, modern ini banyak digelar di acara pesta pernikahan. Selain sebagai hiburan untuk menyambut para tamu undangan yang hadir, dengan tarian ini, pengantin & pemangku hajat juga dapat menunjukkan identitas etnis mereka serta membuat pesta semakin meriah dan berkesan.

Pilihan yang tepat untuk menjadikan tarian sebagai hiburan dalam pesta pernikahan.

Selamat mencoba untuk para calon pengantin   :) :)

Terimakasih

Tuesday, 3 February 2015

Pernikahan Adat Jawa Winda & Redo

Kesibukan dari berbagai pihak menjadi factor utama tidak adanya waktu untuk mempersiapkan dengan matang segala sesuatunya sendiri, sehingga Winda & Redo beserta keluarga memutuskan untuk memberikan kepercayaan pada Sandra’s Project Wedding Package Designer untuk memberikan solusi dan membantu dalam setiap detail persiapan dan pelaksanaan acara yang cukup panjang.

Sesuai dengan keinginan pangantin dan keluarga yang sangat ingin menggunakan adat Jawa, acara dilakukan selama tiga hari berturut – turut. Mulai dari acara pengajian dan siraman, akad nikah yang diadakan di rumah kediaman kemudian di tutup dengan acara resepsi di Sasana Kriya Mandira sebagai puncaknya.

PENGAJIAN DAN SIRAMAN DIKEDIAMAN WINDA

Untuk menyambut para tamu yang akan hadir nantinya, team Sandra’s Project kemudian mempercantik beberapa spot yang ada dikediaman Winda. Dengan tetap berusaha memberikan kesan asri, rangkaian bunga segar menjadi pilihan utama. Hiasan yang memang sudah ada dirumah ini juga dimanfaatkan oleh team Sandra’s Project dan menjadikannya sebagai pemanis dekorasi.

Seluruh prosesi pelaksanaan pesta pernikahan Winda dan Redo diawali dengan pengajian yang digelar dikediaman Winda, dengan dihadiri sanak keluarga dan ibu – ibu pengajian. Acara ini dilaksanakan pagi hari sekitar pukul 09.00 WIB, bersama – sama memanjatkan puji syukur dan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar dilimpahkan kemudahan, kelancaran, kesuksesan dan kesehatan dalam persiapan dan pelaksanaan acara Walimatul Urs ini.

Pengajian ditutup dengan Winda mencium tangan kedua orang tua dan nenek, meminta ijin dan doa restu agar semuanya berjalan lancar baik untuk seluruh rangkaian acara yang akan digelar maupun untuk kehidupan Winda selanjutnya setelah menikah.

Sore harinya, masih dihari yang sama, pemasangan bleketepe dilakukan oleh ayahanda Winda dikediamannya, makna dari acara ini adalah sebagai simbol bahwa akan diselenggarakan hajat mantu dirumah tersebut.

Pemasangan bleketepe merupakan salah satu dari rangkaian upacara perkawinan adat Jawa, biasanya pemasangan bleketepe dilakukan bersamaan dengan pasang tarub ( tenda ), namun pada modern ini, pemasangan tenda lebih banyak dilakukan jauh – jauh hari sebelum pelaksanaan acara, sehingga pasang tarub dan bleketepe hanya dilakukan secara simbolis.

Kemudian dilanjutkan dengan acara siraman, siraman menjadi bagian tak terpisahkan dalam rangkaian upacara pernikahan tradisi adat Jawa. Sebelum pelaksanaannya, kembali Winda memohon restu kepada ayah dan ibunya.

Area siraman telah didekorasi sedemikian rupa oleh Sandra’s Project, dengan menggunakan latar belakang pintu dari kayu yang merupakan pintu gapura rumah kediaman Winda, dimanfaatkan oleh team dekorasi Sandra’s Project sebagai gebyok, diberikan anyaman daun kelapa bernuansa warna kuning dan hijau sebagai alas bagian bawah, menghadirkan suasana sejuk, dipercantik dengan bunga – bunga segar yang mengelilingi area tersebut.

Prosesi siraman diawali dengan kedua orang tua Winda menyatukan air dari 7 sumber kedalam gentong tempat air siraman, dituangkan oleh ibu Winda satu persatu lalu diberi taburan bunga dan diaduk oleh ayah Winda. Gentong tempat air siraman itu sendiri terbuat dari baja kuning yang dihias dengan rangkaian bunga melati.


Pada saat prosesi siraman, siraman pertama dilakukan oleh ayah Winda, kemudian ibu dan selanjutnya dilakukan oleh ibu ibu teman dan kerabat yang dituakan dan di hormati oleh keluarga Winda. Yang melakukan siraman berjumlah 7 orang termasuk orang tua. Setelah siraman, Winda membasuh wajah (raup )dengan air kendi yang dibawa oleh ibunya, lalu kendi tersebut dibanting/dipecah oleh ibunya sambil mengucapkan “ cahayanya sekarang sudah pecah seperti bulan purnama “, dilanjutkan dengan acara potong rambut yang dilakukan oleh orang tua Winda dan kemudian Winda dibopong oleh ayah dan ibunya untuk selanjutnya berganti pakaian.

Selagi Winda berganti baju untuk acara berikutnya, orang tua Winda mengubur potongan rambut/ tanam rambut tadi didepan rumah, diletakkan taburan bunga dan bunga mawar diatasnya sebagai penanda.

Acara selanjutnya dodol dawet, yang berjualan dawet adalah ibu Winda dengan dipayungi oleh ayah Winda, uang untuk membeli dawet terbuat dari kreweng ( pecahan genting )yg dibentuk bulat. Acara ini mempunyai makna berupa harapan agar kelak kalau sudah hidup berkeluarga dapat memperoleh rejeki yang berlimpah seperti cendol dalam dawet dan tanpa kesukaran seperti dilambangkan dengan kreweng yang banyak disekitar kita. Setelah acara dodol dawet kemudian acara suapan terakhir, yaitu Winda disuapi untuk terakhir kalinya oleh ayah dan ibunya sebelum dia menjadi istri Redo.

Dan ritual terakhir yang dilakukan adalah pelepasan ayam jantan hitam oleh kedua orang tua Winda, prosesi ini mempunyai filosofi yang berarti bahwa orang tua sudah dengan sepenuh hati ikhlas melepas putrinya untuk hidup mandiri.

Keceriaan Winda dan beberapa pose-nya, sangat menarik bagi fotografer Sandra’s Project untuk diabadikan, rasanya akan menyesal jika sampai melewatkannya.

Seluruh rangkaian acara adat sebelum akad nikah telah dilaksanakan dikediaman Winda dengan lancar dan sukses.

AKAD NIKAH DI KEDIAMAN WINDA

Acara akad nikah digelar keesokan harinya, masih ditempat yang sama yaitu kediaman Winda yang terletak disekitaran kota Jakarta Timur.

Mengingat acara akad nikah itu sendiri akan dilaksanakan tepat jam 08.00 pagi, persiapan Winda & keluarga dilakukan sejak dini hari, busana yang dikenakan Winda lebih kepada konsep nasional. Winda terlihat sangat cantik setelah mengenakan kebaya warna peach dengan beberapa accesoris warna silver.

Kesan adat jawa baru terlihat pada dekorasi area akad nikah yang berada diruang tengah kediaman Winda. Gebyok kayu ukiran warna coklat berdiri tegak dengan rangkaian bunga yang didominasi oleh mawar putih, seolah menghadirkan suasana tenang, damai dan suci, ornamen kain batik ditaburi bunga melati yang selalu menebarkan wanginya, menjadi backdrop pelaksanaan akad nikah yang sakral ini.

Ditempat yang berbeda, kamar pengantin Winda & Redo sudah didekorasi juga oleh Sandra’s Project & team, rangkaian bunga dibeberapa sudut dan tirai renda menjadi penghias kamar pengantin yang memang dari awal sudah memunculkan kesan etnik jawa dari ukiran tempat tidurnya.

Beberapa sudut didalam kediaman Winda juga tidak luput dari sentuhan dekorasi team Sandra’s Project. Tetap dipercantik dengan rangkaian bunga segar, sederhana tapi sangat menenangkan. 

Sebelum ijab qabul dimulai, Winda meminta izin kepada kedua orang tua terutama ayahnya untuk berkenan menikahkan dia dengan laki – laki pilihannya yaitu Redo, memohon doa restu dan meminta maaf atas segala kesalahan yang selama ini telah dia lakukan. Airmata Winda, ayah & ibu mewakili perasaaan yang mereka rasakan, rasa bahagia bercampur haru.

Dengan disaksikan keluarga besar , kerabat dan para sahabat, prosesi ijab qabul berjalan dengan sangat khidmat, meskipun Winda tidak disandingkan ketika ijab qabul berlangsung, Redo sedikitpun tidak terlihat gugup, justru sangat tenang, keduanya baru disandingkan setelah sah menjadi pasangan suami istri.

Acara dilanjutkan dengan penandatanganan dokumen nikah yang dipandu oleh penghulu dan kemudian diakhiri dengan doa.

Selanjutnya pembacaan sighat taklik atau janji pernikahan oleh Redo kepada Winda, penyematan cincin kawin, penyerahan mahar dan terakhir Winda mencium tangan Redo. Semua moment tersebut satu persatu diabadikan oleh fotografer Sandra’s Project.

Lensa fotografer Sandra’s Project selalu siap menangkap setiap moment yang tercipta dari pasangan pengantin ini, keduanya terlihat sangat lega dan bahagia. Buku nikah dan cincin yang melingkar dijari masing–masing dipamerkan kepada seluruh yang hadir pada acara ijab qabul, sebagai bukti bahwa mereka sudah sah menjadi pasangan suami istri.

Setelah prosesi ijab qabul/ akad nikah selesai kemudian di lanjutkan dengan acara Sungkeman. Sungkeman sendiri berasal dari kata sungkem yang artinya bersimpuh atau duduk berjongkok sambil mencium tangan. Sebagai tanda bakti pengantin kepada orang tua, ritual ini juga sebagai simbolik doa restu dan harapan kedua orang tua kepada kedua pengantin agar selalu diberikan kemudahan dalam mengarungi mahligai rumah tangga.

Sebelum menutup seluruh prosesi yang telah dilakukan, pasangan pengantin ini selalu ingin mengabadikan setiap ekspresi bahagia keduanya dengan lensa fotografer Sandra’s Project, dan salah satunya mereka lakukan dikamar pengantin yang sudah dihias sangat indah.

Prosesi sakral ijab qabul telah selesai, selanjutnya Winda & Redo beserta keluarga memulai persiapan untuk acara resepsi yang akan dilaksanakan dihari berikutnya.

RESEPSI WINDA & REDO DI MANDIRA BALLROOM, SASANA KRIYA – TMII

Penghujung perhelatan akbar selama tiga hari berturut – turut ini telah dipersiapkan secara matang oleh seluruh pihak keluarga dengan mempercayakannya kepada Sandra’s Project. Menurut mereka tidak mudah untuk mengatur sedemikian rupa pesta seperti yang diinginkan, sehingga mereka memilih melibatkan ahlinya dalam bidang ini untuk mengurus seluruh persiapan dan pelaksanaannya.

Gedung Sasana kriya yang terletak didalam komplek TMII ini menjadi venue yang dipilih oleh pasangan Winda & Redo untuk menggelar acara resepsi mereka. Selain letaknya yang strategis, pertimbangan lainnya mengapa keduanya sepakat melabuhkan pilihan digedung ini adalah arsitektur gedung yang lux, mewah dan tempat parkir yang luas.


Suasana adat jawa sangat dirasa pada pesta ini, salah satunya terlihat dari konsep dekorasi yang mereka usung. Mulai dari area penerima tamu, dapat kita jumpai gebyok ukiran warna coklat dan backdrop batik dengan palet warna putih yang kemudian ditambahkan rangkaian bunga sebagai pemanis. Spot dekor ini berfungsi sebagai tempat siteran live yang menyambut tamu pada saat memasuki lobby untuk mengisi buku tamu.

Standing lamp yang dipilih untuk ditempatkan disetiap sisi sepanjang karpet merah juga sangat kental dengan nuansa etnik jawa, tetap menggunakan elemen kayu yang kemudian ditambahkan sarang burung dan lampu gantung klasik.

Berbeda dengan area penerima tamu, kali ini nuansa batik dengan palet warna hitam digunakan sebagai backdrop panggung music, pasangan ini memilih musik gamelan untuk menambah kemeriahan pesta dan sesuai dengan konsep yang mereka pilih.

Pelaminan dengan latar belakang gebyok ukiran kayu warna coklat, yang dipertegas nuansa jawa-nya dengan backlight wayang dikedua sisi. Ditambahkan rangkaian bunga dibeberapa sudut pelaminan serta mini garden tepat didepan pelaminan, memberikan kesegaran tersendiri dalam kehangatan suasana adat jawa ini. Tidak ketinggalan, untuk area VIP juga menggunakan warna coklat dan masih terdapat sentuhan etnik-nya terlihat dari standing lamp dan kain batik yang digunakan pada tendanya.

Winda dan Redo mulai dirias sekitar jam 06.00 pagi, tidak hanya dekorasi yang menonjolkan sisi adat jawa, busana pengantin yang mereka kenakan-pun sarat akan tradisi pengantin jawa yaitu busana pengantin khas keraton Yogya. Busana paes ageng dengan hiasan prada menghiasi dahi Winda, disertai busana basahan dan dodot yang sudah dimodifikasi untuk pengantin berhijab, keduanya terlihat sangat mempesona dengan keanggunan warisan budaya tersebut, seperti ratu dan raja dari keraton.

Mobil pengantin yang sudah dihias mengantarkan Winda & Redo menuju lobi gedung Sasana Kriya, dimana barisan keluarga sudah siap untuk mengantarkan sang pengantin sampai ke singgasananya. Prosesi masuk pengantin tidak hanya diiringi oleh keluarga, tetapi juga edan – edanan sebagai pembuka jalan pengantin, mengantarkan pengantin hingga pelaminan.

Sepanjang karpet merah yang dilewati, senyum Winda dan Redo selalu menghiasi setiap langkah mereka, menyambut para tamu yang menyaksikan prosesi ini dengan bahagia, seolah senyum bahagia mereka kali ini tidak berbatas.

Gatot koco gandrung menjadi tarian pembuka diacara resepsi ini, menampilkan pertunjukan yang menyita perhatian seluruh tamu undangan, bahkan orang tua dan pengantin, menyambut pasangan pengantin setelah duduk disinggasana pelaminan.

Tarian merupakan bagian yang tak terpisahkan dari rangkaian tradisi pernikahan, dalam tradisi Jawa, suguhan tari – tarian didepan panggung pelaminan telah menjadi budaya.

Kedua mempelai mengakhiri semarak pesta dengan kelucuan-kelucuan yang mereka hadirkan saat team fotografer Sandra’s Project mengabadikan ekspresi bahagia mereka. Bagi Winda dan Redo, seluruh rangkaian acara yang telah diselenggarakan beberapa hari ini adalah momen istimewa yang akan menjadi kenangan paling istimewa dan terindah selamanya.

Terimakasih telah mempercayakan momen istimewa kalian pada Sandra’s Project & team.

Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah dan warrahmah.