Friday, 7 November 2014

PAKET PERNIKAHAN NASIONAL TIGA BERSAUDARA DI GEDUNG PEWAYANGAN KAUTAMAN - TMII

Tiga kakak beradik “ Sarah, beserta kedua kakak kembar Zaki dan Fahmi “ mempercayakan moment terpenting dalam hidup mereka kepada Sandra’s Project untuk mengatur segala sesuatunya.

Tantangan pekerjaan unik yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh Sandra’s Project dan team, mengatur dan menyatukan 3 karakter pengantin yang berbeda, tiga keluarga, puluhan sesi foto keluarga yang tidak boleh terlewatkan, memikirkan urutan kirab dan posisi di panggung pelaminan yang terbaik secara visual namun tidak menyulitkan secara teknis …. Merupakan beberapa pekerjaan rumah yang harus kami selesaikan langkah demi langkah. 

 Di awali dengan terucapnya  janji suci  Sarah dan Mukhlis, Gedung Pewayangan Kautaman yang terletak di komplek TMII menjadi saksi utama. Sedangkan Kembar Zaki dan Fahmi telah melaksanakan prosesi sakral tersebut lebih dulu di kediaman mempelai wanita mereka masing-masing. Keduanya telah melaksanakan akad nikah kurang lebih 1 bulan sebelumnya. Zaki dengan pasangannya yang bernama Zi dan Fahmi dengan pasangannya yang bernama Hani.

“ Kebersamaan dalam kehangatan keluarga” mendasari keputusan kompak 3 bersaudara ini.


Seperti halnya ada tiga pengantin, diplataran parkir venue sudah siap tiga mobil pengantin lengkap dengan hiasan bunga.

Sejak pukul 04.00 dini hari, Sarah dan keluarga sudah tiba di venue untuk memulai persiapan make up dengan Sanggar Rias. Ia memilih konsep make up minimalis dan smoke eyes untuk dipadukan dengan hijab dan gaun muslim warna putihnya. Selama sesi make up Sarah terlihat sangat tenang.


Matahari semakin meninggi, kurang lebih pukul 07.00 pagi, penghulu sudah tiba di venue. Rombongan keluarga besar Mukhlis disambut oleh keluarga besar Sarah sebelum memasuki tempat pelaksanaan akad nikah , dilanjutkan prosesi serah terima  dan pengalungan bunga melati kepada Mukhlis yang dilakukan oleh ayah dan ibu Sarah.


Prosesi ijab qabul  berjalan khidmat, semua tamu yang hadir serta keluarga memperhatikan dengan seksama berlangsungnya moment tersebut. Meskipun Sarah tidak disandingkan, Mukhlis sedikitpun tidak terlihat gugup, justru sangat tenang. Hanya butuh 1 kali untuk mengucapkan ikrar tersebut dengan suara lantangnya.


 Tertangkap lensa Zaki dan Fahmi mendampingi sang Bunda, menyaksikan sakralnya prosesi ijab qabul. Keheningan suasana yang tercipta didalam ruangan, menambah kekhusu’an mereka dalam menyaksikan moment ini. Kedatangan Sarah ketempat pelaksanaan ijab qabul -pun sangat dinantikan oleh ibu dan kakak-kakaknya, dimana kedatangan Sarah  menjadi tanda telah resminya Sarah dan Mukhlis sebagai sepasang suami istri.
Ijab qabul merupakan prosesi paling sakral dalam pelaksanaan akad nikah/ pernikahan dalam  islam. Perjanjian/ ikrar yang diucapkan oleh mempelai pria dengan singkat, padat dan jelas tapi maknanya sangat besar. ''Maka aku tanggung dosa-dosanya si dia dari Ayah dan Ibunya, dosa apa saja yang telah dia lakukan, dari tidak menutup aurat hingga ia meninggalkan sholat. Semua yang berhubungan dengan si dia, aku tanggung dan bukan lagi orang tuanya yang menanggung, serta akan aku tanggung semua dosa calon anak-anakku''. Demikian salah satu makna yang tersirat dalam ijab Kabul.


Ketika kata “ Sah ! “ meluncur dari kedua saksi, kebahagiaan dan kelegaan merebak ke seantero  ruangan. Kata-kata tersebut seolah menjadi panggilan pula bagi Sarah untuk ikut serta berbahagia dalam ruang pelaksanaan ijab qabul dan duduk bersanding dengan Mukhlis.



Dengan dipandu penghulu keduanya menandatangani dokumen nikah  dan akhirnya buku nikah yang menjadi bukti sahnya mereka sebagai suami istri telah diterima keduanya.



Dilanjutkan pembacaan sighat taklik atau janji pernikahan oleh Mukhlis kepada Sarah, penyematan cincin kawin, penyerahan mahar  dan terakhir Sarah mencium tangan Mukhlis. Semua moment tersebut satu persatu  diabadikan oleh fotografer Sandra’s Project.


Setelah prosesi ijab qabul/ akad nikah selesai kemudian di lanjutkan dengan acara Sungkeman. Sungkeman sendiri berasal dari kata sungkem yang artinya bersimpuh atau duduk berjongkok sambil mencium tangan. Makna sungkeman merupakan wujud bakti anak kepada orang tua sekaligus sebagai tanda hormat anak kepada orang yang dianggap sebagai orang yang dituakan. Sungkeman dalam acara pernikahan itu sendiri bisa dimaksudkan untuk moment meminta maaf kepada kedua orang tua, memohon izin dan meminta doa bahwa dengan pernikahan ini berarti keduanya lepas dari tanggung jawab orang tua serta berterimakasih karena selama ini telah membimbing dan membesarkan.


Pelaminan megah lengkap dengan 14 kursi, bisa dibilang pemandangan yang sangat jarang kita jumpai pada acara pernikahan. Hal ini menjadi pengalaman tersendiri untuk team Sandra’s Project dan juga para tamu undangan.




Tema warna silver pink ungu menjadikan ruang resepsi Pewayangan Kautaman terlihat mewah, menambah kehangatan suasana. Karpet merah berhiaskan barisan standing flower yang menjadi pengantar para tamu undangan menuju pelaminan untuk memberikan selamat dan doa restu pada ketiga pengantin telah tergelar sempurna.



Foto studio sebelum prosesi masuk pengantin/ kirab selalu di lakukan oleh team foto Sandra’s Project dengan pertimbangan mood dan make up para pengantin dan keluarga masih segar, sehingga akan di dapat ekspresi terbaik mereka.



Selanjutnya tiga pasang pengantin ini memasuki ruang resepsi dengan diiringi kedua orang tua masing-masing serta adik dan kakak kandung. Di awali dengan pengantin utama Sarah dan Mukhlis di ikuti oleh kedua orang tua mereka lalu menyusul di belakangnya pasangan Zaki –Zi beserta orang tua Zi dan pasangan Fahmi – Hani beserta orang tua hani dan rangkaian di tutup oleh para saudara kandung dari 3 keluarga.  Pemandangan yang sangat jarang kita jumpai, tiga pasang pengantin berjalan beriringan menuju ke pelaminan.

Sambutan dari pihak keluarga dan doa, bersama-sama diamini oleh pengantin, keluarga dan para tamu undangan yang hadir. Berharap acara berjalan lancar, tidak hanya pada saat acara tetapi untuk kehidupan selanjutnya juga semoga kebahagian selalu tercurah dan ketiga pasangan tersebut menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warrahmah.


Para tamu undangan memberikan ucapan selamat dan doa restu. Kebahagian dan senyuman terpancar selalu dari ketiga pengantin sebagai ucapan terimakasih kepada para tamu atas kehadirannya dalam pesta pernikahan yang mereka selenggarakan.


Kelucuan pose para penerima tamu dan panitia keluarga diabadikan dipelaminan oleh fotografer dari Sandra’s Project. Mereka terlihat sangat kompak, tidak mau kalah dengan ketiga pengantin. Kebahagian juga terpancar dari semua yang ikut andil dalam kelancaran acara resepsi pernikahan ini.


Ekspresi bahagia dari ketiga pengantin siang itu tak luput dari lensa fotografer Sandra’s Project, laksana raja dan ratu sehari ketiganya mencuri perhatian. Membuat semua moment yang tercipta pada hari itu seolah tak ingin diakhiri.

Kebahagian terus terpancar dari seluruh keluarga dan ketiga pengantin, senyum mereka selalu memancar sepanjang acara , kelucuan gaya dan kekompakan tiga bersaudara ini membuat acara semakin berkesan.

Selamat menempuh hidup baru Sarah dan Mukhlis, Zaki dan Zi, Fahmi dan Hani. Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warrahmah…
3 Pengantin sekaligus dalam satu pesta besar ….. adalah suatu kehormatan dan kebanggaan tersendiri bagi Kami untuk dapat membantu terselenggaranya moment istimewa ini,  Terimakasih atas kepercayaan kepada Sandra’s Project dan team.

Wednesday, 5 November 2014

PAKET PERNIKAHAN ADAT MINANGKABAU RINI & RIDHO DIGEDUNG ANEKA BHAKTI DEPARTEMEN SOSIAL



Gedung Aneka Bhakti Departemen Sosial venue yang terletak cukup strategis di bilangan Jakarta Timur menjadi pilihan acara resepsi pernikahan Rini dan Ridho.
Jam 15.00 WIB Rini dan Ridho memulai persiapan mereka, keduanya memilih untuk mengenakan riasan dan baju adat Minangkabau modifikasi. Dalam tradisi perkawinan Minangkabau, pengantin wanita disebut Anak Daro dan pengantin pria disebut dengan Marapulai. Pasangan ini terliat sangat antusias dalam prosesi awal yang mereka lakukan.
Rini sang anak daro bersiap mengenakan baju kuruang( atasan ) dan kodek ( bawahan ), atribut lainnya berupa perhiasan seperti kalung dan gelang. Namun ada satu perhiasan yang Rini gunakan yang sangat menunjukkan bahwa dia seorang pengantin Minang yaitu suntiang.
Sedangkan Ridho sang marapulai mengenakan pakaian seperti pakaian kebesaran adat yang dipakai pemimpin adat ditanah minang. Kelengkapan pakaiannya antara lain: deta/saluak (penutupkepala), bajugadangbasiba (baju), sarawa (celana), serong/sisampiang (kainsamping) tapi dia memilih tidak menggunakan keris dan tongkat seperti pada adat minang asli.
Sandra’s Project menyulap seisi ruangan dengan kemegahan pelaminan adat minangkabau, warna silver dan biru electric mendominasi pemandangan malam itu. Pelaminan dengan bentuk seperti rumah gadang lengkap dengan ornamennya menjadi salah satu hal yang menarik perhatian seluruh tamu undangan.  Sangat mampu menunjukkan karakter dan ciri khas pengantin beserta keluarga.
Tepat jam 19.00 WIB, tiba waktunya untuk persiapan kirab pengantin. Sebelum disandingkan di pelaminan, keduanya tidak langsung dipertemukan tetapi dengan cara tersendiri sesuai dengan salah satu adat Jawa tertentu yaitu Rini didudukkan diatas tandu yang dibawa oleh empat orang pria untuk dipertemukan dengan Ridho, sedangkan Ridho dan barisan keluarga telah bersiap rapi di pintu masuk atau gazebo menunggu kedatangan Rini.
Setelah Rani disandingkan dengan Ridho digazebo,  sebelum kirab pengantin dilakukan keduanya disambut terlebih dulu dengan menggunakan silat pulut, tari piriang ( tari piring ) dengan diiringi music tabuih yang terdiri dari rebana dan gong. Sebelum Tari Piring, acara dibuka dengan Tari Persembahan terlebih dulu atau disebut dengan sembah pengantin sebagai tanda hormat kepada pengantin.
Selanjutnya Rini dan Ridho disandingkan dipelaminan dengan didampingi orang tua untuk menyambut ucapan selamat dan doa restu para tamu undangan yang telah hadir. Dalam adat minangkabau biasanya disebut dengan Basanding dan perjamuan yaitu acara duduknya pengantin dipelaminan untuk disaksikan oleh tamu tamu  yang  hadir pada pesta perjamuan.
Meskipun lempar bunga atau bouguet bukan termasuk salah satu adat minang tapi Rani dan Ridho memilihnya untuk menambah meriah acara pesta pernikahannya. Disela-sela para tamu menikmati hidangan dan berbincang, prosesi lempar bunga atau bouquet dilakukan. Bingkisan dari pengantin menanti kepada siapa akan diberikan !!

Keduanya berpose beberapa kali dengan dibantu oleh team fotografer Sandra’s Project. Mengabadikan setiap senyum, ekspresi bahagia dan kelucuan yang mereka ciptakan. Dengan pakaian adat minang tersebut Rini dan Ridho terlihat sangat serasi, keduanya mempesona.

Selamat menempuh hidup baru Rini dan Ridho,,
Bahagiaselaludan happily ever after…
Terimakasih telah mempercayakan moment istimewa dalam hidup kalian kepada Sandra’s Project.